Rabu, 02 Mei 2012

MENKES MENINGGAL KARENA KANKER



Selasa malam, 1 Mei 2012, tahlil dan Yasin mengalun dari  ruang ICU Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo yang ditempati oleh mantan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih.

Keluarga Endang bersama sejumlah menteri serta jajaran pejabat eselon satu dan dua Kementerian Kesehatan melantunkan doa untuk wanita kelahiran 1955 itu. Semua pihak masih menyisakan harapan bagi kesembuhannya meski Menkokesra Agung Laksono sebelumnya mengatakan kesadaran Endang sudah nol.

Menurut Agung, kondisi Endang kritis dan terus menurun. “Kesadaran nol. Beliau sudah tidak berinteraksi. Padahal Senin lalu masih bisa bersalaman. Sekarang sudah tidak bisa apa-apa,” kata Agung yang langsung memberitahukan kondisi mantan rekannya di kabinet itu kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sudah lebih dulu menjenguknya.

Malam itu, sejumlah menteri tiba-tiba membesuk Endang. Selain Agung, datang pula Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh, Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, dan Menpan Azwar Abubakar. Datangnya menteri-menteri itu seakan menjadi penanda kondisi kesehatan Endang yang terus memburuk.

Sejak Selasa Sore, Endang memang telah dilarikan ke ICU. “Tim dokter sudah melakukan perawatan secara maksimal,” kata Direktur Utama RSCM Akmal Taher. Akmal dua pekan belakangan ini memang sibuk memberikan keterangan sekaligus klarifikasi mengenai kesehatan Endang kepada masyarakat.

Rabu, 2 Mei 2012, Akmal kembali tampil di muka publik. Ia membawa berita duka cita. Mantan Menkes Endang meninggal dunia. Akmal menjelaskan, penyakit kanker paru-paru stadium lanjut yang diderita Endang menjadi penyebabnya.

“Ibu sudah dalam keadaan kritis sejak kemarin. Kami sudah memberikan dukungan dan penanganan intensif,” kata Akmal di RSCM. Namun Tuhan ternyata berhendak lain. Endang, istri Direktur RSUD Tangerang Reanny Mamahit itu, meninggalkan dua putra dan satu putri.

Mendengar kabar wafatnya Endang, Presiden Yudhoyono langsung membatalkan rapat kabinet terbatas yang seharusnya digelar pukul 14.00 WIB di Kantor Presiden. Istana berkabung. Presiden Yudhoyono pun melayat ke rumah duka di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, malam harinya.

Kamis, 3 Mei 2012, Presiden Yudhoyono akan memimpin langsung upacara pemakaman Endang di San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat.

Riwayat Penyakit
Kanker paru yang diidap Endang terdeteksi sejak Oktober 2010. Endang menyatakan, kanker itu bahkan tidak terdeteksi saat ia menjalani cek kesehatan sebagai calon menteri Kabinet Indonesia Bersatu II pada tahun 2009. Baru satu tahun setelah uji medis itu, saat Endang kembali melakukan medical check up, kanker itu terdeteksi.

Sejak tahun 2010 itu, Endang pun menjalani pengobatan di dalam maupun di luar negeri, termasuk sampai ke kota Guangzhou, China, pada Oktober sampai November 2010. Selama kurun waktu tersebut, Endang tetap menjalankan tugas-tugas kementerian tanpa hambatan berarti.

Namun sekitar tiga minggu lalu, Endang merasa tubuhnya nyeri sehingga ia diperiksa intensif di RSCM. Berdasarkan hasil pemeriksaan menyeluruh yang dilakukan tim dokter, disimpulkan ia memerlukan pengobatan lebih lanjut berupa radioterapi atau radiasi serial. Ia juga membutuhkan perawatan untuk mengurangi keluhan nyeri serta ketidaknyamanan yang ia rasakan.

Pada 17 April 2012, Endang mengambil cuti untuk menjalani perawatan di RSCM. Kondisinya sejak itu naik turun. Tanggal 26 April 2012, Presiden Yudhoyono akhirnya menyetujui pengunduran diri Endang dari kabinet ketika menjenguknya secara langsung. Seminggu kemudian, didampingi suaminya, Endang menghembuskan nafas terakhir.

Siapa Endang?
Endang lahir di Jakarta, 1 Februari 1955, dari keluarga berdarah Banyumas, Jawa Tengah. Selepas Sekolah Menengah Atas, Endang muda mengambil kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 1979. Tamat dari sana, dia langsung bekerja di Rumah Sakit Umum Pertamina (RSUP) di Jakarta.

Baru dua tahun di RSUP, Endang berangkat ke Nusa Tenggara Timur pada 1980. Di provinsi itu, dia menetap di desa. Endang menjadi Kepala Puskesmas di Waipare, Nusa Tenggara Timur. Tiga tahun mengabdi di desa itu, Endang dipanggil lagi ke Jakarta pada 1983. Dia ditempatkan sebagai pegawai di Dinas Kesehatan Pemerintah DKI Jakarta.

Endang menghabiskan hidupnya antara pasien dan buku, penyakit dan teori. Sesudah keluar masuk puskesmas dan rumah sakit, dia kemudian mengambil spesialisasi Kesehatan Masyarakat di Harvard School of Public Health di Boston, Amerika Serikat. Dia terbang ke negeri Paman Sam pada 1992. Di kampus itu pula dia menuntaskan program doktor pada 1997.

Endang pernah bekerja di sejumlah lembaga internasional seperti Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization). Di situ dia memegang jabatan penting sebagai penasihat teknis Departemen Penyebaran Penyakit dan Respons.

Sekembalinya ke Indonesia, Endang terus berkarier di Kementerian Kesehatan.  Sebelum diangkat menjadi menteri, dia menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan.

Nama Endang mulai ramai dibicarakan saat kasus Avian Influenza merebak. Endang dipercaya menjadi Koordinator Riset Avian Influenza pada 2006. Sejak itu kariernya terus menanjak. Endang pun menjadi Menteri Kesehatan pada Kabinet Indonesia Bersatu II sejak 22 Oktober 2009.

Sebelum menjadi Menteri Kesehatan, sesungguhnya tak banyak yang tahu sosok Endang. Riwayat pekerjaannya dicari-cari, dan ia kemudian dikait-kaitkan dengan proyek Naval Medical Research Unit No 2 (Namru 2) yang ditentang keras menteri sebelumnya, Siti Fadilah Supari.

Namru 2 adalah unit kesehatan Angkatan Laut Amerika Serikat yang pernah berada di Indonesia. Laboratorium Namru berada di kompleks Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan di Jalan Percetakan Negara, Jakarta.

Kegiatan penelitian bersama Namru dan Depkes ini menitikberatkan pada malaria, penyakit akibat virus seperti demam berdarah, infeksi usus yang mengakibatkan diare, dan penyakit menular lainnya seperti flu burung. Penelitian Namru 2 berhubungan dengan penyakit-penyakit tropis yang muncul alamiah.

Masalah kemudian timbul karena proyek ini dituding sebagai kedok AS dalam menjalankan misi intelijennya. Depkes akhirnya memutus kerja sama dengan AS terkait proyek Namru 2 ini. Di sinilah nama Endang muncul. Ia rupanya pernah menjadi staf di Namru 2.

Mantan Menkes Siti Fadilah Supari bahkan pernah menuding Endang membawa virus flu burung ke luar negeri tanpa seizin dia. Akibatnya, Endang dimutasi menjadi staf biasa. Oleh karena itu, penunjukan Endang sebagai penggantinya membuat Siti Fadilah geram sehingga ia angkat bicara soal kontroversi Namru 2 yang menyeret nama Endang di dalamnya.

Namru 2 bagi Endang memang bak duri dalam daging. Belum juga dilantik menjadi menteri, DPR sudah menuntut penjelasan dan pertanggungjawaban Endang soal dugaan keterlibatan dirinya dalam proyek Namru 2. Endang pun menyangkal semua tudingan.

“Saya tidak pernah menjual virus ke luar negeri. Itu adalah hasil penelitian. Setiap peneliti boleh membawa,” kata Endang sesaat setelah SBY menunjuknya sebagai Menkes. Sebelum sidang kabinet pertamanya sebagai Menteri, 23 Oktober 2009, Endang pun menegaskan tutup buku soal Namru 2.

Kerja sama Kemenkes dengan AS lalu berlanjut, namun berganti nama menjadi Indonesia-United States Center for Medical Research (IUC). Kerja sama Indonesia-AS, menurut Endang, memiliki cakupan luas, salah satunya laboratorium biomedis untuk pengembangan vaksin, alat diagnostik, identifikasi virus, bakteri, dan lain-lain.
MENKES MENINGGAL DUNIA

0 komentar:

Posting Komentar